Showing posts with label Sawahlunto. Show all posts
Showing posts with label Sawahlunto. Show all posts

Friday, May 1, 2009

E1064 - MAK ITAM



Bagi sebagian orang, nama ini mungkin asing. Bisa memiliki banyak arti. Tapi di awal tahun 2009, nama Mak Itam sudah tak asing lagi di telinga dan mulut masyarakat Kota Sawahlunto. Dan bukannya tak mungkin nama ini bergema seantero Sumatera Barat dan juga Indonesia dan beberapa negara tetangga. Begitu hebat pemilihan nama Mak Itam sehingga nama tersebut ikut andil mengangkat dan memperkenalkan Kota Sawahlunto sebagai daerah tujuan wisata sejarah. Media cetak, televisi dan radio banyak yang menulis tentang mak itam ini. Bahkan di kalangan blogger, nama ini pun mulai di bicarakan.

Apa dan Siapa ?

Mungkin timbul pertanyaan bagi anda yang mungkin baru kali ini mendengar nama Mak Itam. Apa dan siapakah dia ? Apa kehebatannya ? Kenapa Mak Itam menjadi sorotan bagi para wisatawan local ataupun mancanegara ? mungkin saya bias sedikit menjelaskan sejauh apa yang saya tau..


Mak Itam adalah sebuah Lokomotif Uap Seri E1060 Jerman tahun 1965, dulunya digunakan untuk menarik gerbong-gerbong berisi batubara dari Kota Sawahlunto menuju Pelabuhan Emmahaven (saat ini bernama : Teluk Bayur), di Padang. Sejak tak ber-operasinya aktivitas transportasi yang menggunakan kereta api di Sumatera Barat, akhirnya Mak Itam dibawa dan di simpan di Museum Kereta Api Ambarawa, Jawa Tengah.

Saat ini, Mak Itam kembali ke Kota Sawahlunto. Atas gigihnya Wako Amran Nur dan Masyarakat Peduli Kereta Api Sumatera Barat (MPKS) melakukan negosiasi dengan pemerintah pusat, terutama menteri perhubungan dan pihak KAI (Kereta Api Indonesia). Dan yang lebih hebatnya lagi, Bapak Wapres Jusuf Kala akhirnya ikut memfasilitasi kepulangan Mak Itam ini.

Berbagai acara menyambut kedatangan Mak Itam pun digelar. Masyarakat Sawahlunto tampak sangat antusias dan ikut bersuka cita menyambut kepulangan Mak Itam ini. Promosi pun ditingkatkan guna memberikan informasikan kepulangan Mak Itam ke seluruh penjuru daerah, segala bentuk media dan segala bentuk promosi lainnya. Hebat..!!

Dalam sambutannya, Wako Sawahlunto, Ir. Amran Nur mengatakan dengan tegas kalau Mak Itam ini memiliki ruh yang akan mengembalikan kenangan yang pernah terjadi di kota penghasil batubara ini. Mak Itam adalah ikon pariwisata di Sawahlunto yang akan meningkatkan jumlah kunjungan wisata di kota itu.

"Hari ini (15 Desember 2008) adalah catatan sejarah baru bagi Kota Sawahlunto. Loko uap yang sudah direncanakan dipulangkan sejak tiga tahun lalu baru terwujud sekarang. Sudah dua kali pergantian menteri tapi akhirnya baru bias pulang sekarang.." ucap Amran Nur saat itu.

"Lokomotif ini adalah benda yang memiliki nilai sejarah tinggi. Benda buatan Jerman ini sangat berarti, sebab sewaktu pertama kali diangkut ke Sawahlunto, ia dilepas dengan lagu kebangsaan Jerman yang diiringi orkestra," katanya.

Menurut Direktur Pengembangan Usaha PT. Kereta Api Indonesia, Julison Arifin, loko uap ini termasuk loko uap tua di dunia. Untuk Indonesia, loko uap seusia ini hanya dua. Satu lagi berada di Taman Mini Indonesia Indah, yang hanya sebagai pajangan. Dan loko uap ini diharapkan dapat memberi kontribusi yang besar seperti sewaktu dioperasikan dulu.

Launching pengoperasian Mak Itam diresmikan langsung oleh Menteri Perhubungan Republik Indonesia, didampingi Gubernur Sumatera Barat dan beberapa deretan astis ibukota.

Penulis : Seeget

Sunday, March 1, 2009

Lubang Suro - Wisata Baru Sawahlunto

Kota Sawahlunto mempunyai banyak objek wisata yang dapat anda kunjungi. Sebut saja peninggalan sejarah pada zaman kolonial Belanda. Ada Bangunan tua khas Belanda, dan ada museum Goedang Ransoem, Kantor Pusat Ombilin, Museum Kereta Api dan lain sebagainya. Dan 1 lagi area wisata yang baru adalah ”Lubang Suro" (Tunnel Utama) bekas penambangan batubara di Tangsi Baru Kelurahan Tanah Lapang Kecamatan Lembah Segar diyakini mempunyai daya pikat tersendiri bagi para wisatawan macanegara maupun lokal.

Dengan mengunjungi Lubang Suro, para wisatawan dapat bernostalgia mengenang sejarah masa lalu, tentang kekejaman Belanda terhadap pekerja paksa buruh tambang batu bara yang sering disebut ”Orang Rantai” yang guna mengeksploitasi batubara yang dimulai sejak tahun 1860 lalu itu.

Dengan alasan itu, Lubang Suro sangat bagus untuk obyek wisata, karena di samping mempunyai nilai sejarah, juga memiliki keunikan tersendiri. ”Pemerintah Kota Sawahlunto memang sudah komit untuk mengembangkan berbagai objek wisata tambang ini,” ungkap Wali Kota Sawahlunto, Amran Nur beberapa waktu lalu di museum tambang Gudang Ransum. Menurut Amran Nur, Lubang Suro sangat mirip dengan lubang Jepang di Bukittinggi. Bedanya, lubang Suro Sawahlunto lebih unik serta dibangun jauh lebih awal dari bangunan lubang Jepang. Karena berdasarkan bukti sejarah, bangsa Belanda lebih duluan datang ke Indonesaia daripada bangsa Jepang. Kalau, Lubang Jepang dibangun sekitar tahun 1930-an, maka Lubang Suro jauh lebih awal yaitu dibangun pada tahun 1898. Selain itu, keunikan Lubang Suro yang posisinya persis berada di bawah kotajuga mempunyai lorong-lorong panjang mulai dari Kelurahan Tanah Lapang hingga ke kantor DPRD,dengan panjang lebih kurang ( 1,5 km).

Tuesday, January 6, 2009

Sejarah Tambang Sawahlunto

Sawahlunto adalah satu kota kecil di Indonesia yang terletak dilingkungan Bukit Barisan Sumatra Barat. Pada 1858, De Groet meyakini bahwa kawasan di sekitar sungai Ombilin memiliki kandungan kandungan batu bara. Sinyalemen De Groet itu kemudian ditindaklanjuti oleh Ir Willem Hendrik De Greve pada 1867.

Penyelidikan yang lebih saksama oleh Ir Verbeck menghasilkan temuan yang mengejutkan. Ditengarai kawasan tersebut mengandung batu bara dengan kisaran mencapai puluhan juta ton.(makasih ya Meneer..!! ). Dengan ditemukan tambang tersebut, penduduk setempat mulai bekerja dan mencari nafkah di sana. Tapi karna berat dan susahnya bekerja di daerah tambang, mereka banyak yang melarikan diri. Akhirnya, didatangkanlah para pekerja dari berbagai daerah di seluruh nusantara. Dan pekerja terbanyak adalah dari Pulau Jawa. Mereka dipekerjakan dengan paksa oleh pemerintah Belanda. Kaki mereka diikat dengan rantai, mereka dicambuk dan disiksa jika tidak bekerja. Karena itulah istilah "Orang Rantai" begitu kuat melekat pada mereka "si-pejuang bangsa" yang bekerja di tambang batubara tersebut. Dibawah siksaan dan penderitaan mereka bekerja demi nusa dan bangsa dikemudian hari.

Pada 1887, Belanda membangun Proyek Tiga Serangkai, yakni Tambang Batubara Ombilin, jalur KA, dan pelabuhan Teluk Bayur. Pemerintah Hindia Belanda menanamkan investasi sebesar 5,5 juta gulden untuk membangun fasilitas pengusahaan tambang batu bara ombilin seperti pelabuhan Teluk Bayur dan kereta api.

Pada tahun 1892, dimulailah produksi pertama dari tambang batubara ini. Sampai beberapa tahun lamanya, perekonomian Kota Sawahlunto praktis bergantung pada sektor pertambangan ini. Areal penambangan batu bara di Kota Tambang ini mencapai lebih kurang 16.000 hektar, yang tersebar di Kecamatan Talawi. Dan Ombilin inilah satu-satunya tambang batubara di Indonesia yang memiliki tambang dalam (masuk ke perut bumi).

Tahun 1893, Pemerintah Hindia Belanda menyelesaikan pembangunan Pelabuhan Teluk Bayur. Sedangkan jalan kereta api yang menghubungkan Teluk Bayur-Sawahlunto melewati Kota Padangpanjang selesai dibangun pada 1893.

Kronologis pembangunan jalur kereta aip Teluk Bayur-Sawahlunto: 1. Jalur KA pertama dilakukan dari Pulau Air (Padang) ke Padang Panjang (71 km) selesai 12 Juli 1891.
2. Dari Padang Panjang - Bukittinggi (19 km) selesai November 1891.
3. Dari Padang Panjang - Solok ( 53 km) selesai Juli 1892.
4. Solok - Muara Kalaban (23 km) dan Padang - Teluk Bayur (7 km) selesai Oktober 1892.
5. Yang terakhir ialah Muara Kalaban ke Sawahlunto (2 km) yang harus menembus sebuah bukit dengan membuat terowongan sepanjang 835 meter yang selesai Januari 1894. Terowongan ini (Lubang Kalam) dikerjakan oleh orang-orang rantai tadi.

Cuplikan :
Sastrawan dan ulama dari Sumatera Barat, HAMKA, mengabadikan derita OMBILIN dalam sepucuk syair: "Ombilin, kemana engkau/ berbelok berbilin-bilin/Telah banyak masa berganti/... kekayaan bagi ‘rang lain/ kami tinggal dalam melarat."

penulis : Seegetz

Friday, December 5, 2008

Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto



Gedung ini dibangun pada tahun 1910 dan bernama "Gluck Auf". Dahulunya digunakan sebagai gedung pertemuan dan jamuan atau pesta para pejabat kolonial belanda. Bangunan ini juga pernah menjadi Rumah Bola yang dipergunakan sebagai tempaat bermain bola bowling, gedung societies tempat para pejabat kolinial mengadakan pertemuan, tempat berpesta para pejabat tambang dan none-none Belanda setelah bekerja. Sore hingga malam hari mereka menghibur diri, dengan menghabiskan waktu dan uang, minum-minum, berdansa-dansi di Rumah Bola. Hiburan, penunda hari-hari rindu ke sanak saudara di negeri Kincir Angin.

Tuesday, December 25, 2007

Jangan Mati Sebelum melihat Sawahlunto...

"Jangan mati sebelum anda melihat Kota Sawahlunto di Provinsi Sumatra Barat" Kalimat tersebut secara lugas mengalir begitu saja dari seorang Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (MENPAN), Taufik Effendi, pada acara penganugerahan Leadership Award 2007 kepada Ir. H. Amran Nur, Walikota Sawahlunto di Jakarta, Sabtu (22/12).

Seorang teman pernah bertanya padaku. "Seperti apa sih hebatnya Sawahlunto...?" tanya dia suatu waktu lalu. Dan tanpa bercerita panjang lebar,.. aku meminta dia untuk mengunjungi WebBlog parmato hitam.

Satu minggu berselang...
Setelah mengunjungi web blog parmato hitam, temanku baru memiliki komentar dengan sedikit nada kagum. "Gila ya kotamu itu..memang bagus banget. Knapa baru sekarang diadakan pengembangan wisata nya..?" ucapnya.

Friday, December 14, 2007

Sejarah Pemerintahan Sawahlunto


Tahun 1918 Sawahlunto dikategorikan sebagai Gemeentelijk Ressort atau Gemeente dengan luas wilayah 778 ha. Hal ini karena ada kaitannya dengan puncak keberhasilan kegiatan pertambangan yang dilakukan di daerah tersebut.

Pada tahun 1930 wilayah ini berpenduduk 43576 jiwa, diantaranya 564 jiwa adalah orang belanda (Eropa).
Walaupun demikian Sawahlunto belum sempat menjadi Stadsgemeente, yang penyelenggaraan kotanya dilakukan oleh stadsgemeenteraad (DPRD) dan Burgemeester (Walikota).

Sejak tahun 1940 sampai dengan akhir tahun 70-an produksi batubara ombilin merosot, kembali hanya puluhan ribu ton pertahun. Sawahlunto pun mengalami kemerosotan yang diindikasikan dari merosotnya jumlah penduduk menjadi hanya 13.561 jiwa pada sensus tahun 1980. Dengan menambah beberapa fasilitas, perubahan manajemen dan penerapan teknologi baru, usaha penambangan meningkat kembali sejak awal tahun 80-an, bahkan produknya terus meningkat melampaui 1 juta ton pertahun pada akhir tahun 90-an.
Penduduk Sawahlunto juga meningkat menjadi 15.279 menurut sensus tahun 1990, walaupun demikian laju pertumbuhan penduduk yang hanya 1,2% pertahun ini masih dibawah rata-rata laju pertumbuhan penduduk Sumatera Barat yang mencapai 1,62% dan tidak tampak mempunyai korelasi dengan peningkatan produksi batubara.

Kemudian pada tanggal 10 Maret 1949 diadakan rapat dengan hasilnya Daerah Afdeeling Solok tersebut di bagi atas Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung dan Kabupaten Solok, maka Pemerintahan Stad Gemeente Sawahlunto di rangkap oleh Bupati Sawahlunto/Sijunjung.
Dalam kurun waktu 1949 - 1965 terjadi perubahan status dari berdiri sendiri atau di bawah Pemerintah Sawahlunto/Sijunjung.

Selanjutnya dengan Undang-undang Nomor 18 tahun 1965 statusnya berubah menjadi Daerah Tingkat II dengan sebutan Kotamadya Sawahlunto berkepala Perintahnya sendiri di bawah Walikota AKHMAD NOERDIN, SH terhitung mulai tanggal 11 Juni 1965 yang dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri tanggal 8 Maret 1965 Nomor 1965 Nomor Up. 15/2/13-227 di tunjuk sebagai Pejabat Walikota Kepala Daerah Sawahlunto.

Tahun 1990 wilayah admnistrasi Sawahlunto diperluas dari hanya 779 ha menjadi 27.344 ha yang membawa konsekuensi jumlah penduduknya meningkat. Berdasarkan hasil survey penduduk antar sensus 1995, penduduk Sawahlunto menjadi 55.090 jiwa. Pada sensus tahun 2000 tersebut tercatat jumlah penduduk 50.668 jiwa, artinya selama lima tahun telah terjadi penurunan 8%. Penurunan jumlah ini disebabkan karena sebagaian perumahan pegawai Unit Pertambangan Ombilin (UPO) dipindahkan keluar daerah kota Sawahlunto.

Urutan Walikota yang memimpin Kota Sawahlunto sejak pertama Berdiri sampai sekarang sebagai berikut :
1. ACHMAD NURDIN, SH ( Masa Jabatan Walikota 1965 s/d 1971 )
2. Drs. SHAIMOERY, SH ( Masa Jabatan Walikota 1971 s/d 1983 )
3. Drs. NURAFLIS SALAM ( Masa Jabatan Walikota 1983 s/d 1988 )
4. Drs. H. RAHMATSJAH ( Masa Jabatan Walikota 1988 s/d 1993 )
5. Drs. H. SUBARI SUKARDI ( Masa Jabatan Walikota 1993 s/d 1998 dan 1998 s/d 2003 )
6. Ir. H. AMRAN NUR ( Masa Jabatan Walikota 2003 S/D 2008 )
dan H. FAUZI HASAN ( Masa Jabatan Wakil Walikota 2003 S/D 2008 )

Dan ditangan Bpk. Ir. H. AMRAN NUR, perubahan kota sawahlunto begitu pesat. Pembangunan sektor pariwisata guna meningkatkan perekonomian masyarakat setempat mulai di gerakkan. Dengan membawa misi KOTA WISATA TAMBANG YANG BERBUDAYA 2020, Ir. H. AMRAN NUR sudah mulai melangkah. Pembangunan tempat wisata secara otomatis membangkitkan perekonomian daerah dan juga masyarakat sekitarnya. Belum lagi ditambah dengan pemberian bibit coklat dan tanaman lain, bantuan sapi untuk bagi masyarakat yang mau bertani dan beternak. Salut untuk "Sang Pemimpin"... saya bangga memiliki pemimpin seperti anda. Perjuanganmu tetap kudukung.. demi memajukan SAWAHLUNTO-ku.. Terima kasih.

Friday, August 3, 2007

Sejarah Kota Sawahlunto

Sawahlunto sebagai salah satu kota kecil di Indonesia yang terletak dilingkungan Bukit Barisan Sumatra Barat. Sejak ditemukannya batu bara di sekitar Sungai Ombilin tahun 1868 oleh seorang ahli tambang dari Belanda yang bernama Ir. Willem Hendrik De Greve (makasih Meneer..!!), dan produksi pertamanya yang dimulai pada tahun 1892, geliat perekonomian Kota Sawahlunto praktis bergantung pada sektor pertambangan. Areal penambangan batu bara di Kota Tambang seluas lebih kurang 16.000 hektar, yang tersebar di Kecamatan Talawi, memiliki tambang dalam satu satunya di Indonesia.

Kegiatan penambangan selain dilakukan perusahaan milik negara, juga perusahaan swasta dan masyarakat. Produksi batu bara yang mayoritas dihasilkan oleh kuasa pertambangan PT Tambang Batubara Bukit Asam Unit Produksi Ombilin (PT TBBA UPO) ini dikonsumsi pasar domestik untuk keperluan beberapa industri semen, kegiatan listrik negara, dan perusahaan swasta lokal lainnya. Sedangkan untuk pasar Asia, dinikmati oleh perusahaan Ma-sefield AG (Malaysia), Sungmin (Korea), dan Jepang. Untuk mendukung kegiatan produksi, distribusi batu bara dari lokasi penambangan ke konsumen dapat dilakukan dengan menggunakan truk dan kereta api batu bara menuju pengapalan di Pelabuhan Teluk Bayur.

Penambangan batu bara Ombilin telah beroperasi selama +/- 109 tahun. Sayang, cadangan batu bara tidak mencukupi lagi. Sehinggak sejak tahun 2003 (maaf jika saya salah…) Tambang luar sudah tidak bisa berproduksi lagi. Sedangkan Cadangan batu bara dari tambang dalam masih sangat menjanjikan. Namun, penambangan dari tambang dalam ini tidak semudah penambangan dari tambang terbuka. Di samping memperhitungkan tingkat keselamatan penambang, peralatan yang yang dibutuhkan juga harus lebih canggih, yang berarti memerlukan investasi besar. Sementara itu, susahnya memberhentikan penambang liar oleh masyarakat yang merasa berhak karena batu bara berada di tanah ulayat, menjadi kendala utama dalam mengundang investor. Di luar kendala tersebut, karena batu bara adalah non renewable resources, orientasi kemampuan ekonomi daerah pascabatu bara perlu dikembangkan.

Memang tidak dapat dipungkiri, usaha pertambangan batu bara menjadikan kemampuan ekonomi per kapita (PDRB per kapita) Kota Sawahlunto meningkat setiap tahun. Sampai tahun 1999 angka PDRB per kapita mencapai Rp 9,1 juta. Angka ini melebihi angka PDRB per kapita Provinsi Sumatera Barat dan nasional yang masing-masing Rp 4,5 juta dan Rp 5,5 juta. Namun, jika ditinjau tanpa memasukkan unsur batu bara, PDRB per kapita turun menjadi Rp 5,1 juta. Angka yang masih tergolong tinggi, dengan kontribusi terbesar berasal dari sektor jasa dan industri pengolahan. Bersama sektor pertambangan, sektor pertanian yang juga termasuk dalam kegiatan yang hasilnya menjadi input bagi kegiatan ekonomi lainnya, sebenarnya menjadi sumber mata pencarian utama penduduk. Sektor pertanian menyerap 4.952 tenaga kerja (21,49% dari total tenaga kerja yang terdata), sementara sektor pertambangan menyerap 5.049 tenaga kerja (21,91%). Akan tetapi, soal kontribusi terhadap total kegiatan ekonomi, sektor pertanian tiap tahun menyumbang tidak lebih dari 5%. Tahun 1999, misalnya, sektor pertanian hanya menyumbang 4% atau senilai Rp 19,2 milyar. Sedangkan sektor pertambangan setiap tahun memberi kontribusi hampir 50%. Pada tahun 1999 saja kontribusinya 45,92 % atau senilai Rp 220,9 milyar. Ini menunjukkan penduduk yang banyak bekerja di sektor pertanian adalah tenaga kerja yang kurang produktif.

Adapun potensi unggulan yang sedang dikembangkan pemkot (pemerintah kota) untuk menghadapi era pascatambang adalah industri yang berbasis kerakyatan, seperti kerupuk ubi kubang di Kenagarian Kubang. Serta usaha ayam buras di Desa Kumbayau, ikan air tawar di Desa Rantih, dan batu bata di Desa Sijantang. Dengan visi menjadikan Sa-wahlunto sebagai kota wisata tambang yang berbudaya, pemkot juga mempersiapkan kegiatan wisata yang memanfaatkan aset dan kegiatan pertambangan sebagai obyek dan daya tarik wisata.


* (Data diambil dari berbagai sumber : Litbang, Kompas dan beberapa sumber yang dapat dipercaya)

Wednesday, August 1, 2007

Kotaku,... Sawahlunto

T : “Dari mana mas..??”
J : “Sawahlunto“
T : “Dimana tuh..?”
J : “3 Jam dari Padang”
T : “Oooo…”


Begitu kutipan tanya jawab yang sering aku dengar, dan bahkan pernah aku terima. Begitu banyak orang yang tak tau dimana itu Sawahlunto. Tapi dengan bangga aku menyatakan bahwa aku terlahir di sana. Bukan di padang,.. sebagaimana banyaknya orang rantau bilang kalo ditanya asal kota nya.

Banyak kenangan indah di Sawahlunto, walau aku hanya tinggal selama 15 tahun disana. Ragam budaya yang ada membuat begitu maraknya kehidupan bermasyarakat di kotaku. Apalagi dulu waktu jaman Ombilin masih jaya,.. kota ku itu disebut “Hongkong Diwaktu Malam”. Karna di malam hari, jika kita melihat kota Sawahlunto dari puncak Polan atau puncak Mato Aia… maka kota ”Kuali” itu memang terlihat begitu indah dengan lampu2 kota. Mirip deh seperti Hongkong.. hehehehe. :)

Sejak “mati”nya Ombilin, kotaku jadi suram. Sepi.. Sunyi.. Perekonomian pemerintah kota sedikit porak poranda. Dan itu berlangsung cukup lama. Sampai datang walikota baru, Bpk. H. Ir. Amran Nur (Maaf jika salah…), kotaku mulai berubah. Setelah hampir 4 tahun tak pernah pulang kampung, tahun 2006 lalu akhirnya aku mudik. Dan aku cukup kagum dengan kemajuan kota-ku saat ini. Ada jalan baru di dekat Mesjid Agung - melewati sungai batang lunto, pasar, terminal kereta api dan tembus ke bangunan BDN lama (Red: sekarang Bank Mandiri). Ada juga perubahan taman kota Lapangan Segitiga yang sudah mulai ramai oleh anak2 muda. Sebagai tempat ngumpul dan kongkow bersama teman-temannya. Sudah ada lapangan pacuan kuda yang katanya sudah bertaraf Internasional. Dan bahkan, sekarang sudah ada Water Boom di pemandian Air Dingin Muaro Kalaban. Dan gosipnya, itu adalah satu-satunya waterboom di Sumatera Barat (percaya/tidak). Kotaku kini mulai menggeliat, mencoba bangun dari tidurnya.

Dengan tujuan menjadi Kota Wisata Tambang yang Berbudaya, Sawahlunto kembali berada di jalurnya untuk mewujudkan Kota Idaman. Melalui Blog ini, aku mengucapkan Terimakasih kepada pimpinan & Staff Pemkot Sawahlunto. Dipundakmu kutitipkan kemajuan untuk negriku dan juga masyarakatnya. Bangkitkan kembali kota Sawahlunto. Hidupkan kembali "Hongkong di waktu malam-nya". Hidupkan kembali perekonomian kota, agar rakyat makmur sentosa. Amin. Selamat Berjuang Kawan...

Monday, July 30, 2007

Kota kelahiranku,... Sawahlunto

Tiba-tiba terlintas sebuah kota kecil yang sangat aku rindukan.
SAWAHLUNTO...Sebuah kota dimana asal usulku dimulai...
Aku lahir di Sawahlunto, pada tahun 1977. Saat itu, kota tersebut tidaklah begitu ramai. Tapi saat aku beranjak SD, istilah "Kota Hongkong Diwaktu Malam" merupakan julukan yang diberikan kepada kota Sawahlunto. Ya,.. Karna saat itu, Lampu kota dan lampu jalan selalu terang benderang dan membuat suasana kota sangatlah gemerlap cahaya.

Kotaku dikelilingi oleh bukit. Ada puncak "Mato Aia", ada puncak Polan (yang konon diambil dari nama negara seorang pasteur (Polandia) yang hilang di puncak tersebut, yang (konon) dibawa oleh mahluk halus - orang bunian). Dulu, kedua bukit inilah tempat aku dan teman-temanku Camping/berkemah. Menyaksikan "Hongkong diwaktu malam" itu dari sebuah bukit. Begitu indah..!!!

Kotaku sangatlah kecil. Tapi (dulu) begitu indah. Banyak ragam budaya disana, walau mayoritasnya diisi oleh jawa dan keturunan. Mungkin 50% penduduk sawahlunto adalah suku Jawa dan keturunannya, Kemudian diisi beberapa % oleh suku Minang, Batak, Aceh, Sunda, dll. Jadi kotaku sangat Multikultural.

Aku sekolah TK di Santa Lucia, sebuah bangunan peninggalan belanda yang sekarang berubah menjadi sekolah. Sekolahku bersebelahan dengan Gereja, yang desain bangunannya juga seperti peninggalan Belanda). Kemudian aku melanjutkan ke SDN 5 sawahlunto (didekat Lapangan Segitiga / disebelah Wisma Ombilin), kemudian SMPN 1 Sawahlunto (Sempat menjadi Ketua Umum Osis SMPN 1). Prestasiku juga tak memalukan. Aku selalu rangking di sekolah, dan selalu mendapat kado dari sekolah setiap habis pembagian raport. Kemudian, aku mencoba untuk merantau ke SMAN 1 Padang. Kemudian Kuliah di Bandung, membuka usaha, kerja, kuliah lagi, kerja lagi,....

Wah.. kok ngomongnya jadi ksana kemari nih... Tapi ya begitulah. Sampai saat ini pun, aku masih membayangkan kotaku. Dari Muaro kalaban, melewati jalan yang berliku-liku (waktu kecil, aku sering mabok kalau melewati jalan ini..), Melewati Kelok "S", Pasar, Lapangan Segitiga, kearah air dingin.. Tangsi Baru. STOP..!! yah.. disanalah aku tinggal. -Tangsi Baru-... Kali Sikadi, Batang aia beleng, Kali Pondok batu,.. hehehe.. disitu dulunya aku belajar berenang. :) Sampai sekarang, rasa kangen itu masih ada. Mungkin terus ada...
Dan aku tak akan pernah melupakan kota kecilku,.. SAWAHLUNTO

Sunday, July 15, 2007

Asal Nama Kota Sawahlunto

Sawahlunto,…
Selain dekenal sebagai Kota penghasil Batu Bara, Sawahlunto juga dikenal dengan nama Kota Multikultural atau Kota Multietnik, karena kota tua ini banyak memiliki ragam budaya dari beberapa daerah di Indonesia ini. Semenjak zaman penjajahan Belanda, Jepang dan Era Kemerdekaan Republik Indonesia, penduduk yang homogen dengan berbagai suku (Jawa, Minang, Batak, Sunda, Aceh, dll) mempunyai keunikan dan tradisi tersendiri.

Kesenian dan Kreatifitas seni tiap suku begitu menonjol di Kota ini. Sebut saja Kuda Kepang, Campur Sari, Randai, Kesenian Batak, Tarian Minang, dll begitu sering unjuk gigi dalam setiap kesempatan yang ada. Bahkan zaman dahulu… Pagelaran Wayang saja sering sekali diadakan di Kota ini. (Menurut cerita.. mbah buyutku dulu juga seorang dalang. Hahaha.. Hebat! Eh, bener gak ya..? ) Hiks.. Hiks.. tapi sayang, sekarang pagelaran wayang itu sudah tak ada lagi. Entah karna sudah tak diminati atau entah gak ada lagi orang yang sanggup menjadi Dalang?? Entahlah….

Rasa senasib dan sepenanggungan (sebagai orang rantau) membuat kehidupan bermasyarakat di kota ini begitu harmonis, saling menghargai, tolong menolong dan penuh kekeluargaan, sehingga wajar jika kota ini dijuluki “Kota Idaman”, yaitu Kota yang Indah, Damai, Aman dan nyaMAN. Menurut orang-orang, asal nama Sawahlunto berasal dari 2 suku kata.
- Sawah, yang artinya tempat bercocok tanam, dan
- Lunto adalah sebuah nama nagari di perbatasan silungkang dan lumindai.
Dan nama nagari ini (Lunto) juga dipakai sebagai nama batang sungai (Batang Lunto) yang mengalir membelah kota Sawahlunto .
Konon,.. arti Sawahlunto adalah : Sawahnya orang Lunto,… atau
Sawah yang ada di pinggiran Batang Lunto.
Saya sendiri tak bisa membuat kesimpulannya. Bagaimana dengan anda..?? :) 

Sawahlunto adalah salah satu kota dengan perekonomian yang pasang surut. Nain turun diterjang gelombang perekonomian. Pernah jaya pada masa sebelum penjajahan jepang. Kemudian redup pada masa G-30-S, saat pemain-pemain politik mengganggu aktifitas tambang. Dan Konon,.. pada masa ini pulalah, terjadi kristenisasi di kota Sawahlunto. ( Tapi saya tidak akan membahas hal ini begitu jauh.. karna AGAMA adalah hak individu ). Kemudian Sawahlunto menggeliat lagi,.. saat OMBILIN memajukan sektor pertambangan. Saat ini, kembali Sawahlunto berada pada level terendah. Perekonomian mati. Kota mati. Lapangan kerja Mati… Tapi harapanku… Semangatku akan tetap kujaga agar jangan pernah MATI. Dengan berharap kepada pejabat kota,.. Mari kobarkan semangat untuk membangun Negri Tercinta. Jangan pernah Mati semangatmu… Janganlah MATI ide-ide kreatifmu.

Sawahlunto sudah terbiasa dengan pasang surut perekonomian kotanya. Dan saya sangat yakin, Sawahlunto Menggeliat dimasa yang akan datang. Dengan visi KOTA WISATA TAMBANG YANG BERBUDAYA, dimasa depan.. Sawahlunto akan jadi kota tujuan wisata orang-orang dari mancanegara. Majulah Kotaku Tercinta…!!! Dengan segenap kemampuanku,..kudukung perjuangan membangun kota kita tercinta “SAWAHLUNTO“.

Asal Nama Sawahlunto dan Pasang Surut Ekonomi Kotanya


Lagi semangat nih nyeritain kotaku SAWAHLUNTO. Sebenernya ini bukanlah tulisan baru, karna sebelumnya aku sudah pernah menulis ini di blog-ku yang lain. Tapi karna ingin ngumpulin semua tulisan ku tentang sawahlunto,.. maka kembali aku tampilkan di sini.

Sawahlunto,…
Selain dekenal sebagai Kota penghasil Batu Bara, Sawahlunto juga dikenal dengan nama Kota Multikultural, karena kota tua ini banyak menyimpan ragam kebudayaan daerah. Semenjak zaman penjajahan Belanda, Jepang dan Era Kemerdekaan Republik Indonesia, penduduk yang homogen dengan berbagai suku (Jawa, Minang, Batak, Sunda, Aceh, dll) mempunyai keunikan dan tradisi tersendiri.

Kesenian dan Kreatifitas seni tiap suku begitu menonjol di Kota ini. Sebut saja Kuda Kepang, Campur Sari, Randai, Kesenian Batak, Tarian Minang, dll begitu sering unjuk gigi dalam setiap kesempatan yang ada. Bahkan zaman dahulu… Pagelaran Wayang saja sering sekali diadakan di Kota ini. (Menurut cerita.. buyutku dulu juga seorang dalang. Hahaha.. Hebat! Eh, bener gak ya..?) Hiks.. Hiks.. tapi sayang, sekarang dah gak ada lagi. (Apakah gak ada Dalangnya lagi.. atau Era Modernisasi sudah menyingkirkannya..??). Rasa senasib dan sepenanggungan membuat kehidupan berwarga dan bermasyarakat penuh harmonis, saling menghargai, tolong menolong dan penuh kekeluargaan, sehingga kota ini dijuluki “Kota Idaman”, yaitu Kota yang Indah, Damai, Aman dan nyaMAN.

Menurut orang-orang, nama Sawahlunto berasal dari 2 suku kata. Sawah, yang artinya tempat bercocok tanam, dan Lunto adalah sebuah nama nagari di perbatasan silungkang dan lumindai. Dan nama nagari ini juga dipakai sebagai nama batang sungai (Batang Lunto) yang mengalir membelah kota sawahlunto . Konon,.. arti sawahlunto adalah : Sawahnya orang Lunto,… atau Sawah yang ada di pinggiran Batang Lunto. Saya sendiri tak bisa membuat kesimpulannya. Bagaimana dengan anda..?? :)

Sawahlunto adalah salah satu kota dengan perekonomian yang pasang surut. Nain turun diterjang gelombang…. Pernah jaya pada masa sebelum penjajahan jepang. Kemudian redup pada masa G-30-S, saat pemain-pemain politik mengganggu aktifitas tambang. Dan Konon,.. pada masa ini pulalah, terjadi kristenisasi di kota Sawahlunto. ( Tapi saya tidak akan membahas hal ini begitu jauh.. karna AGAMA adalah hak individu ). Kemudian Sawahlunto menggeliat lagi,.. saat OMBILIN memajukan sektor pertambangan.

Saat ini, kembali Sawahlunto berada pada level terendah. Perekonomian mati. Kota mati. Lapangan kerja Mati… Tapi harapanku… Semangat jangan pernah MATI. Dengan berharap kepada pejabat kota,.. mari kobarkan semangat untuk membangun Negri Tercinta. Jangan pernah Mati semangatmu… Janganlah MATI ide-ide kreatifmu. Karna Sawahlunto sudah terbiasa dengan pasang surut perekonomian kotanya. Majulah Kotaku Tercinta… Dengan segenap kemampuanku,.. akan ku dukung perjuangan membangun kota kita tercinta “SAWAHLUNTO“.
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews